BEROYATNEWS.COM — Penutupan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi berakhir ricuh. Insiden ini dipicu oleh ketegangan antara dua organisasi kemahasiswaan besar, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Kronologi kericuhan bermula ketika sekelompok kader HMI datang secara berkelompok ke kampus UIN STS Jambi pada hari Rabu, 27 Agustus 2025. Mereka datang dengan niat mengibarkan bendera HMI dalam rangka menyambut penutupan PBAK, sekaligus melakukan perekrutan terhadap mahasiswa baru.
Kedatangan mereka disambut oleh Ketua Komisariat Terpilih PMII UIN STS Jambi, Ahmad Khotib Lubis. Ia segera menginisiasi dialog guna meredam potensi konflik dengan organisasi lain, khususnya PMII, yang juga aktif di lingkungan kampus.
Ahmad Khotib Lubis menyampaikan bahwa sebagian besar kader HMI yang hadir bukan hanya berasal dari UIN, tetapi juga dari luar kampus. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengingat potensi gesekan antar organisasi yang kerap terjadi di masa lalu.
Dalam upaya mencegah konflik, Ahmad Khotib melakukan tiga kali mediasi dengan Koordinator Komisariat (Korkom) HMI UIN Jambi. Pada mediasi pertama, Korkom menyampaikan bahwa mereka memiliki legalitas dari pihak rektorat untuk mengibarkan bendera HMI di depan Auditorium UIN Jambi, tanpa ada legalitas. Namun, Ahmad Khotib menyatakan kekhawatirannya bahwa aksi ini dapat memicu reaksi keras dari kader-kader PMII yang saat itu juga hadir dalam rangkaian penutupan PBAK.
Dalam mediasi kedua, Ahmad Khotib menyampaikan solusi kompromi: kader HMI diperbolehkan mengibarkan bendera di saat acara penutupan PBAK, namun harus segera meninggalkan area kampus setelahnya, demi menjaga kondusifitas. Ia bahkan memberikan jaminan keamanan selama aksi berlangsung.
Namun, pada mediasi ketiga, pihak HMI bersikeras bahwa mereka baru akan meninggalkan kampus setelah para mahasiswa baru keluar dari Auditorium. Di sisi lain, Ahmad Khotib memperingatkan bahwa jika kesepakatan sebelumnya dilanggar, ia tidak bisa menjamin keamanan karena emosi kader-kader PMII sudah tak terbendung.
Benar saja, tak lama kemudian, gesekan antar dua kelompok tersebut tak terhindarkan. Adu mulut berujung dorong-dorongan hingga pecahnya kericuhan di area kampus.
Menanggapi insiden tersebut, salah satu mahasiswa mengatakan bahwa bentrokan antara PMII dan HMI bukan hal baru. Ia menyebut kejadian ini sebagai buntut dari gesekan emosional yang sudah lama terjadi di antara kedua organisasi.
“Biasa saja kalau bentrok, mungkin kemarin emosi kawan-kawan PMII dan HMI sedikit terpancing, jadi terjadilah chaos,” ujarnya.









