BEROYATNEWS.COM — Meski sejumlah wilayah di Kabupaten Muaro Jambi telah diguyur hujan dalam tiga hari terakhir dan tren titik api menunjukkan penurunan, Tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) setempat tetap disiagakan. Langkah ini diambil lantaran intensitas hujan dinilai belum sepenuhnya mengakhiri ancaman bencana Karhutla.
Berdasarkan hasil evaluasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muaro Jambi, tren titik api (hotspot) memang mengalami penurunan, terutama di sejumlah daerah rawan Karhutla seperti Kecamatan Kumpeh Ilir, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, dan Taman Rajo yang sebagian besar merupakan wilayah lahan gambut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, menegaskan bahwa pihaknya tetap menjaga tingkat kewaspadaan tinggi. Potensi kebakaran dinilai masih ada, khususnya pada lahan-lahan mineral yang belum tersentuh curah hujan.
”Kebakaran yang terjadi bukan hanya disebabkan faktor alam, namun juga diduga akibat kelalaian manusia,” ujar Anari, Senin (2/11).
Pihaknya kembali mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Anari mengingatkan bahwa sanksi tegas akan dijatuhkan apabila ditemukan adanya unsur kesengajaan di lapangan.
Sebagai langkah antisipasi berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi telah resmi memperpanjang status siaga darurat Karhutla hingga akhir November 2026.

Berdasarkan catatan BPBD Muaro Jambi, terhitung sejak 19 Oktober lalu hingga saat ini, dilaporkan nihil penambahan titik api baru. Secara keseluruhan, akumulasi kejadian Karhutla yang ditangani sepanjang periode ini mencapai 139 peristiwa dengan total luas lahan yang terbakar seluas 635,2 hektar.









